Kampus UI: Sebuah Refleksi Perjalanan Hidup

as
Siluet diri. Alice Springs, Australia September 2009.

Saya masih teringat ketika waktu seumur anak Sekolah Menengah Pertama (SMP), ibu saya sering bercerita bahwa di Indonesia, untuk kuliah, Universitas Indonesia (UI) adalah salah satu kampus yang paling sulit untuk tembus jadi mahasiswa. Jaman beliau, mahasiswa yang masuk sana terbagi dua, kalau bukan mahasiswa pintar sekali (lulus ujian tes), ya kedua dia mungkin anak orang kaya. Orang kaya seperti anak menteri, anak pengusaha, yang katanya kalau masuk harus tukar kunci mobil. Akan tetapi, itu adalah era tahun 1980-an.

Pertama kali mengenal Kampus Fakultas Ekonomi ketika beranjak SMA Kelas 1, saya beruntung menjadi peserta lomba Kompetisi Ekonomi (KOMPeK) yang diselenggarakan mahasiswa FEUI angkatan 2007. Sejak saat itu, saya jatuh cinta dengan FEUI, muncul rasa dan cita-cita untuk lulus SMA dapat kuliah di kampus FEUI.

Selama masa SMA saya banyak mengumpulkan prestasi akademik. Saya pernah mengikuti lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang ekonomi di Medan, tahun 2010. Beberapa kali mengikuti lomba debat Bahasa inggris di KOMPeK FEUI. Serta sempat di tahun 2009, saya mengikuti pertukaran siswa Ambon- Darwin, Australia selama 5 bulan dari Bulan Juli – Desember 2009. Atas prestasi-prestasi tersebut, saya berharap suatu saat dapat berguna untuk bekal masuk kampus favorit yang ada di Indonesia.

Pada tahun 2011, saya lulus SMA dengan nilai yang sangat memuaskan. Di tahun itu pula, pertama kali Pemerintah memberlakukan sistem penjaringan mahasiswa baru untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lewat SNMPTN Undangan. SNMPTN Undangan adalah jalur masuk tanpa tes, berbekal nilai laporan akademik dan prestasi akademik pendukung. Antara nasib atau keberuntungan, prestasi yang sudah saya kumpulkan selama 3 tahun, saya rampungkan untuk sebagai bekal pendukung masuk UI. Jurusan saya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) waktu itu, namun perjalanan akademik di SMA membuat saya lebih menyadari kemampuan saya di bidang ekonomi dan akuntansi. Tak tanggung-tanggung, saya melamar untuk menjadi mahasiswa baru 2 universitas favorit di Indonesia; Universitas Indonesia untuk jurusan Akutansi sebagai pilihan pertama, manajemen dan ilmu ekonomi sebagai pilihan kedua dan ketiga. Kemudian Universitas Gadjah mada dengan pola urutan jurusan yang sama.

SNMPTN Undangan bukan satu-satunya program pemerintah, beasiswa BIDIKMISI juga adalah program pencanangan pemerintah kala itu. Program ini adalah program bantuan finansial kepada mahasiswa yang berkuliah di PTN agar dapat memperlancar dan meningkatkan akademiknya. Bantuannya berupa pembebasan biaya kuliah awal dan per semester, uang saku bulanan, serta pelatihan dan peningkatan softskill yang rutin diselenggarakan.

Banyak tawaran untuk mencoba masuk perguruan tinggi lain sewaktu di masa senggang saya menunggu hasil pengumuman SNMPTN Undangan, namun saya tolak. Hati besar saya berkata, UI adalah kampus saya. Pada waktu yang dinantikan, saya diterima menjadi mahasiswa Universitas Indonesia, kampus Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi angkatan masuk 2011. Sujud syukur, impian itu tercapai, dengan perjalanan perjuangan sekitar 3 tahun.

MASUK UI DENGAN BEASISWA GRATIS        

311052_1911736124664_392418479_n
Foto pertama kali menerima Jaket Kuning UI, Agustus 2011.

 

Setelah berita gembira masuk UI menjadi mahasiswa baru, saya bertolak dari kampong halaman saya di Ambon, Maluku untuk melakukan registrasi resmi sebagai mahasiswa baru dan siap mengikuti program penerimaan mahasiswa baru baik dari universitas dan fakultas. UI adalah kampus dengan sejuta prestasi, histori almamater yang sacral, dan mesin pencetak pejuang pejuang dan intelek bangsa yang handal. Disini, saya menyadari betapa beruntungnya saya waktu itu.

Tidak cukup, sebagai mahasiswa baru dengan calon mahasiswa yang akan diberi bantuan beasiswa Bidik Misi, kampus perlu melakukan penjaringan ulang terlebih dahulu, agar dapat memastikan bahwa mahasiswa yang disantuni adalah mahasiswa yang tepat sesuai dengan kemampuan finansial orang tuanya. Singkat cerita, saya terpilih sebagai mahasiswa baru yang masuk UI dengan gratis, berkat Beasiswa BidikMisi Pemerintah Indonesia.

Perjalanan kampus saya jalani dengan cerita yang tidak monoton, saya memulai kampus serba sendiri. Tidak ada teman kerabat dari Ambon yang saya bawa untuk kuliah bersama saya disini, saya sendiri memulai membangun lingkungan baru. Untunglah, doa orang tua yang kuat membuat saya dapat  beradaptasi dengan sangat baik di Kampus FEUI. Kata  Charles Darwin, “yang bertahan di dunia ini bukanlah yang paling kuat, namun yang paling bisa beradaptasi”. Saya tidak kaget budaya di tanah Jawa, khususnya Jakarta, saya beradaptasi dan mempunyai lingkungan pergaulan yang cukup luas.

Untuk awal-awal tahun pertama kampus, saya sudah cukup mengenal beberapa tokoh tokoh senior kala itu. Ketua BEM, Ketua BPM, beberapa anggota senat juga sudah cukup akrab dengan nama saya. Perkuliahan di masa mahasiswa baru saya jalani dengan sangat teratur, hal ini jelas karena ada dukungan finansial yang cukup dari Beasiswa ini. Saya tidak pernah meninggalkan kelas asistensi untuk mata kuliah-mata kuliah penting untuk kompetensi jurusan saya, akuntansi. Untuk biaya hidup-pun saya masih dibantu dengan mendapat salah satu kamar untuk disewa selama 6 bulan di Asrama UI. Asrama UI adalah fasilitas dari kampus untuk mahasiswa baru agar dapat menyewa kamar dengan harga dibawah standar rata-rata lingkungan tersebut, waktu itu, saya sewa satu kamar per bulannya = Rp200,000.

Menuliskan cerita tentang beasiswa Bidik Misi tidak bisa terlepas dari Kampus UI itu sendiri, sampai detik ini, saya merasa sebagai manusia yang paling beruntung di muka bumi. Dapat berkuliah di UI dengan gratis, menikmati fasilitas UI yang serba lengkap dan murah, salah satunya asrama UI.

Tahun kedua saya sudah aktif di dunia organisasi. Saya adalah staf Departemen Kajian Strategis BEM FEUI 2012, divisi di BEM yang katanya terkenal suka aksi dan demonstrasi. Kehidupan kampus antara tidak berorganisasi kala mahasiswa baru dan mulai aktif di organisasi membutuhkan biaya hidup yang berbeda, jelas lebih meningkat ketika aktif di BEM. Disini, saya merasa jika bukan karena beasiswa, saya mungkin sudah banyak berhutang atau melakukan pekerjaan lain untuk mencari nafkah. Hal ini karena, uang kiriman dari orang tua tidak begitu mencukupi kebutuhan aktivitas saya selama aktif di kampus, beruntung karena beasiswa ini saya dapat tetap bugar.

Menjadi Ketua BEM

1463196_10200734803124002_698913140_n
Poster Kampanye Maju Ketua BEM

Ini adalah cerita lain. Tidak pernah terpikirkan untuk menjadi ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi UI tahun 2014, namun perjalanan idealisme kala itu menghantarkan saya untuk berkontribusi lebih. Beasiswa BIDIKMISI adalah beasiswa yang memberikan bantuan finansial dengan harapan si mahasiswa tersebut dapat meningkatkan prestasi akademik dan juga aktif di kegiatan kegiatan ekstrakurikuler yang dibutuhkan agar dapat memperoleh softskill yang baik. Saya merasa,  bantuan finansial ini memang harus sepenuhnya dimaksimalisasi, tidak dengan belajar kuliah saja, tapi belajar di kelas dan belajar di luar kelas.

Ketika menjadi ketua BEM, saya turut memantau perkembangan pemberian beasiswa BIDIK MISI untuk junior-junior (mahasiswa baru dan angkatan bawah). Saya ingin memastikan bahwa mahasiswa yang terpilih atau dibantu lewat beasiswa ini adalah mahasiswa yang tepat dan harus terus dimotivasi agar dapat meningkatkan prestasi akademik dan non akademiknya. Sering bermalam-malam di kampus dengan pegawai yang bekerja di Bagian Mahasiswa dan Alumni (Mahalum) FEUI, untuk memilah-milah bantuan untuk mahasiswa, tidak hanya BidikMisi.

Untuk kampus sekaliber UI, tidak banyak problema mahasiswa yang murung dan malu dengan keadaan finansial mereka. Sebagai orang yang pernah merasakan, tenggang rasa yang kuat ketika bertugas menjadi Ketua BEM fokus saya adalah menjaring mereka dan mendekati mereka untuk membuka akses kepada bantuan finansial dari berbagai macam pihak, baik itu Beasiswa BIDIK MISI, beasiswa Ikatan Alumni (ILUNI) FEUI, Beasiswa dari lembaga/perusahaan swasta, dan lain-lain.

 

Studi Karya Akhir a.k.a Skripsi

Ketika mengerjakan skripsi di tahun 2015, setahun yang lalu, saya sudah purna menjadi Ketua BEM. Sehingga kebutuhan akan aktivitas sudah berkurang, disatu sisi, kebutuhan untuk memenuhi penyelesaian Skripsi Karya Akhir membuat biaya hidup saya meningkat. Kebutuhan saya untuk mencari data dari berbagai instansi, wawancara dengan berbagai pihak, terkadang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini saya sikapi dengan saya ingin bekerja part-time di satu tempat. Saya mendapat kesempatan untuk bekerja part-time sebagai asisten riset salah satu Dosen di Kampus, dulunya adalah Menteri ESDM tahun 2009-2011, hanya setengah periode Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Jilid II.  Hal ini penting karena saya kebutuhan keluarga saya pada waktu itu sudah cukup melonjak, Ibu saya sudah tidak lagi bekerja, begitu dengan ayah saya. Penghasilan keluarga saya berasal dari usaha sewa kamar (kos-kosan) yang kami peroleh.

11722482_10204147783086368_7137222999451501388_o
Sidang Skripsi, July 11, 2015.

Menyikapi ini, saya berinisiatif untuk aktif menggunakan waktu saya di tahun 2015 untuk dua hal penting: menyelesaikan studi karya akhir saya dan mencari penghasilan tambahan dengan part time. Kenapa part time? Ya karena akan terasa sulit untuk bekerja full time sambil menyelesaikan skripsi dengan kebutuhan data yang banyak. Alhasil, pusat penghasilan saya terdapat dari dua poros, bekerja part time dan beasiswa BIDIK MISI, berbeda dengan tahun 2014, poros pemasukan saya berasal dari beasiswa Bidik Misi dan uang kiriman orang tua. Pada tahun 2015, di umur saya yang 21 tahun, saya sudah mandiri secara finansial. Saya tidak lagi menerima uang kiriman orang tua, semua pemasukan keluarga saya untuk memenuhi kebutuhan dalam rumah tangga dan adik-adik saya.

Lulus dari Kampus Perjuangan, Kampus FEUI

Dengan kemampuan budget management saya, saya berhasil mengatur tabungan pribadi saya untuk dapat membiayai semua tiket pesawat pulang-pergi kedua orang tua saya, dan kedua adik saya. Saya ingin mereka melihat jerih payah mereka, bahwa saya tidak pernah main-main untuk belajar di UI, menyelesaikan studi di UI, mendapatkan gelar sarjana, gelar kehormatan untuk seorang intelek, apalagi itu gelar sarjana itu di berikan oleh kampus sekaliber Universitas Indonesia.

Hari bahagia itu jatuh pada tanggal 28 Agustus 2015, dimana seluruh wisudawan UI dari berbagai fakultas tidak hanya ekonomi berkumpul untuk merayakan gelar sarjana yang diperoleh setelah waktu 4 tahun berjuang. Saya tidak hanya keluarga inti saya yang ikut meramaikan, Bibi saya, adik dari ayah saya, datang saya lulus dan sarjana. Itu adalah salah satu momen yang paling bahagia saya pernah rasakan, melihat senyum semua orang yang saya kenal dan kerab. Tentu, selain dukungan keluarga saya tersebut, bantuan eksternal seperti Beasiswa Bidik Misi Pemerintah adalah dukuangan yang tak bisa saya lupakan.

Saya berdoa semoga bagi siapapun yang melatarbelakangi ide Beasiswa ini, yang mendukung pelaksanaan beasiswa ini, yang membiayai program beasiswa Bidik Misi ini, diberikan keselamatan dunia dan akhirat, kesehatan, dan rezeki yang tiada henti, dan Semoga Allah meridhoi amal jariyah’ yang mereka lakukan. Aamiin.

 

 

———————————————————————–

Saat ini saya sudah bekerja. Saya bekerja di Kantor Akuntan Publik, Purwantono, Sungkoro, & Surja (KAP-PSS) atau dalam nama tenarnya Ernst & Young Indonesia (EY). Terhitung sebagai pegawai tetap sejak April 2016 lalu.  EY adalah KAP yang masuk dalam KAP empat besar di dunia, dan juga di Indonesia. Dititik ini, saya masih tidak bisa berpikir hanya bisa bersyukur, banyak orang-orang baik yang saya temui selama perjalanan hidup sehingga menghantarkan saya kepada rencana-rencana yang saya cita-citakan. Untuk itu, saya telah berkomitmen, jika diberikan kesempatan yang leluasa, saya akan berupaya untuk menebar kebaikan yang lebih luas dan berdampak kepada khalayak umum dan masyarakat luas. Semoga Allah meridhoi semua rencana-rencana baik kita,

 

 

 

Moh Mulyawan Tuankotta, S.E

Depok, Juni 23, 2016

Pukul 22:20 WIB

Advertisements

One thought on “Kampus UI: Sebuah Refleksi Perjalanan Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s