The plan which was unplanned

Some of great moments of my life is happened to be with no plans. I once plan to write a book after my college graduation, but few days after graduation day, I could not even list the-stuff-I-need-to-do to start write the book.

After college, I really want to work in SKK Migas. It’s an Indonesia oil and gas industry regulating body. But particularly it was confirmed that there were no vacancies open. For 3 months after graduation day, I work for one of my campus lecturer private office. It is a consulting and research office. Monday to Friday, from 8 AM to 5 PM, not really far from my flat, but surely still one hell of traffic.

In December, I got an e-mail from a company. It is said that my application is being proceed, and in the next few days, I will receive a phone call. So I did receive a phone call. It is from a lady (which is now my super-ordinate). She said that she work in an accounting firm offices, as a manager. She asked me to come to the office for work interview. Then I remember, I once took a test for becoming an employee of the firm, but did not realize it was in December that I actually made it to next phase. So, cut to the story, we made the schedule for an interview. Afterwards, I got another phone call from HR of the firm, to discuss the offer, duration of initial test performance, monthly benefits, and the date of the first day.

28 December 2015, mark my first day in the office. It has been one year and couple months up to this date. The plan was unplanned. But, either way, it was a important milestone of my life. I sure did learn a lot.

 

Special thanks to everyone who was, is, and still helping me.

I am grateful.

Advertisements

Umur Ideal untuk Menikah!

Menurutku, umur seorang pria yang ideal untuk menikah adalah ketika sudah beranjak 28 tahun. Ya kira-kira rentang 27-29 tahun lah.

Kenapa? Alasannya kolega-kolega yang ia miliki sudah cukup pada saat melepas masa lajang. Pada umur 28 tahun, kira-kira seorang pria sudah lulus kuliah S1, kerja di beberapa tempat, dan sudah menyelesaikan pendidikan S2-nya.

Normalnya orang menyelesaikan kuliah S1 di umur 22 tahun atau 21 tahun. 3-4 tahun pengalaman kerja + 2 tahun kuliah S2. Koleganya tidak datang dari masa SD, SMP, SMA, dan kuliah S1 saja, tpi dari teman kerja kantor dan kolega pendidikan S2 nya. Punya kolega dan jaringan yang luas itu aset loh. By asset, I mean sesuatu yang kiranya akan memberikan masa manfaat di masa mendatang.

Betul gak?

Haha

A Letter from a Friend

I got my head full of  boredom, uncertainty, sadness, doubts, worries, and everything else. and then I wrote a letter to a friend.

 Please give me stronger shoulder. I am exhausted, hanging by a thread, almost fainted, honestly I can’t take them all at once.

He replied,

From the day you were born, you were taken care by your parents completely. For once, you lived a life where you know nothing but a fortune. You wake up, you eat, you drink milk, you play toys, and you sleep and everything else like there is nothing to worry. And the days were you went to school, where you know nothing but to study. Your parents take care of your needs and your school fees, and your everything else. Almost anything. When you went to college 5 years ago, your mom accompanied you, stay there for a week. She checked the flat foods, your clothing, your schedules, and other things to keep you up to college days. She need to make sure you are and you will alright, and yet you are.

Not to mention the day you graduate, she, your father, and your brothers came. They ease their time to meet you. 3 months later you got a job, that somehow change the way you are, some to good, and some to bad. Yet, in your first day, she still accompanied you. She takes many wounds than you ever did, but she did not give up.

I heard you once said, that there are 2 important days in someone’s life, the day they were born, and the day they know why. And you said, you already knew why. THIS is is why you came for. This is not even a new thing for you, you have been through tons of miles of hell I could not even describe. You are the strongest person I once knew, hopefully still. This is just another battle, another field, another war, another series, the plot will always be the same, just different opponent.

You. Lived. to. Fight. As it you were, you are, and you will meant to be. Because guys like you, selfless, intelligent, ambitious, are the ones that we need at most. But also, guys like you, are the one who don’t get to live normal life.

So please, Wann, we need you to stay strong, ikhlas-lah dalam melakukan pekerjaan ini,  we need you at your very best.

 

 

 

With love, from a friend,

 

My heart will always be with you

2 Pelajaran dari Perjalanan ke Desa Pangalengan, Bandung (22/12’16 – 23/12’16)

Hari kamis dan jumat tanggal 22-23 Desember kemarin,  saya mengunjungi daerah Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat dalam rangka tugas dinas. Kalau dalam peta, lokasi koordinatnya seperti dibawah ini:

4947
Cukup jauh bukan? 😉

Saya mengunjungi sebuah kompleks budidaya bibit kentang. Perjalanan dari kota Jakarta ke Pangalengan menempuh waktu sekitar 6 jam perjalanan, jarak tempuh dari kota Bandung sendiri 2 jam perjalanan. Pangalengan adalah daerah dengan latar puncak yang sejuk, walau disiang hari cukup terik namun udara yang berhembus cukup adem membuat suasana puncak semakin meresap. Saya jadi ingat 2 tahun lalu terlibat dalam acara bakti sosial kampus, Desa Sadengkolot. Bogor, sangat nostalgia.  #ah-yasudahlah~

Kawasan pertanian ini memiliki produk akhir yaitu bibit kentang, bibit kentang tersebut akan di-distribusikan ke Petani mitra agar ditanam kembali untuk menjadi kentang yang selama ini kita lihat/beli di pasar. Nah, namun karena ini kompleks milik klien saya, maka kentang tersebut dipakai sebagia bahan baku untuk membuat produk konsumen.*but let’s not get into that

Kawasan  tersebut memiliki pekerja-pekerja yang berasal dari masyarakat Pangalengan sendiri. Tua dan muda, laki dan perempuan. Ada yang bekerja di bagian pembuatan pupuk dan kokopit (kokopit adalah semacam serat dari buah kelapa), nah disini umumnya ibu-ibu dengan taksiran umur 40-50 tahun, yang kurang bisa bahasa Indonesia (pengalaman ketika saya ajak bicara) sementara kawula mudanya (taksiran umur 17-30 tahun) bekerja di bagian budidaya tanaman dan penyimpanan bibit kentang.

Masyarakat yang santun

Sewaktu melakukan tugas, saya perlu mengurai bagaimana proses bisnis di kawasan ini untuk menghasilkan bibit kentang yang berkualitas ke petani, terkadang pertanyaan-pertanyaan saya cukup menyita waktu mereka. Namun, saya merasa terbantu dengan setiap orang yang saya interview, dari tutur katanya, bahasa tubuhnya, tindakannya, senyumnya,  sangat sopan dan santun. Seperti ada sinar ketulusan yang nampak setiap kali mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

Sewaktu sholat Jumat, selesai sholat tahiyatul masjid, saya menjabat tangan salah satu makmum yang duduk disamping saya, masih muda, sekitar umur-an anak SMP, maksud hati menjabat tangan, eh tangan saya juga dicium. Kaget refleks saya menarikkan tangan saya, merasa tidak perlu sampai tangan saya di-cium. Rupanya ini merupakan bentuk tata krama yang dipegang anak muda tersebut. Mungkin sikap sopan dan santun mereka baik dalam hati, tutur, dan tindakan sudah dibangun sejak waktu masih kecil di desa Pangalengan.

Pekerja Keras

Saya melihat anak muda, lebih muda dari saya, sudah bekerja untuk menafkahi dirinya. Pekerjaannya dilakukan dengan sungguh-sungguh, saya diantar untuk mengelilingi setiap bagian bisnis dan dijelaskan dengan detail prosesnya. Bagi saya, pekerjaan yang mulia adalah  pekerjaan yang lurus (halal) dan dilakukan dengan profesional. Kerja keras mereka membuat saya senantiasa bersyukur dan lebih terpacu, bahwa setiap orang juga bekerja, it’s not just you, buddy, who work all night, terkadang memang lelah, tetapi kerja adalah bagian hidup yang harus terus berjalan diiringi keikhlasan.

“If you want it all, you need to put it into work”. -Cornell Stokes, Luke Cage, Episode 2, Season 1, Marvel Netflix ABC.

 

Saya kembali ke Jakarta dengan mata hati yang penuh kesan. Jika dihari baik nanti, saya ingin mampir lagi kesana, sekedar cerita-cerita dan bercengkrama, menjauhi hiruk-pikuk kota Jakarta yang penuh nafas materialistis yang pekat. Desa Pangalengan, it was a sanctuary.

 

Melepaskan Hiatus

Kalau mengetik kata Hiatus di google, muncul tampilan dibawah ini:

 

hiatus

Saya sepertinya sedang hiatus. Iseng-iseng di hari sabtu kemarin (3/12/2016) scroll down history akun sosial media Path saya, saya yang dulu (1-3 tahun yang lalu) sepertinya orang yang berbeda. Reaktif. Responsif dan tanggap dengan isu-isu terkini. Tapi berbeda dengan saat ini, cenderung untuk diam dan menanggapi dalam hati.

Mungkin sudah waktunya bangkit dari masa hiatus. Saya harus kembali mencermati lingkungan sekitar.

Pungguk Merindukan Bulan

bulan
sumber gambar: kecubungaidara.blogspot.com

Hari ini tidak seperti biasanya. Saya bertemu seseorang yang dari semua sisinya memiliki kemiripan dengan salah satu staf saya dulu waktu di masa kampus. Baik dari perawakan, penampilan fisik, cara berpakaian, cara berbicara, gaya tertawa, gaya senyum, kaca mata yang digunakan, sampai seluk-seluk kecil yang saya perhatikan sungguh begitu mirip.

Bukan perasaan cinta. Ini perasaan rindu. Entah kenapa saya sangat sendu malam ini membayangkan pada tahun 2013 saya pernah memiliki pengalaman memimpin 7 orang disamping dan dibawah saya. Salah satu dari 7 orang itu yang tadi saya ceritakan sosoknya mirip dengan orang yang saya temui ini. Pengalaman itu sangat mengesankan, tersimpan baik dalam memori dan batin saya, banyak cerita indah dan dramatis yang membantu saya untuk mencintai negeri ini dengan sepenuh hati.

Saya sendu. Saya sendu membayangkan momen-momen manis tersebut. Bolehkah saya kembali ke momen-momen itu lagi ya Tuhan? Banyak cerita manis saya ingin rasakan kembali.

Ini bukan tidak move on. Ini hanya flashback. Kita berhenti sejenak kepada cerita-cerita dimana kita berasal, agar tetap istiqomah dijalur yang tepat. Momen-momen itu hanya bisa terbayang manis dalam ingatan,  berharap waktu dapat diputar kembali, bagaikan pungguk yang merindukan bulan. :”)

To all of you, Departemen Kajian Aksi Strategis BEM FEUI 2013. Sukses terus dimanapun kita berada, insyaAllah kita bertemu kembali untuk Indonesia. Saya percaya 🙂

 

kastrat-13
Departemen Kastrat BEM FEUI 2013. xoxo

 

 

 

Sepenuh Hati

Menjalani segala sesuatu hendaknya dijalani sepenuh hati.

Hati yang penuh dan bulat memandu otak untuk bekerja sesungguh-sungguh.

 

Kuliah, belajarlah sepenuh hati,

Mencari kerja, aktif lah sepenuh hati,

Bekerja, kerjakanlah sepenuh hati,

Membantu teman, bantulah sepenuh hati,

Menolong saudara, tolonglah sepenuh hati

Mengasihi, kasihi lah sepenuh hati,

Mencintai, cintailah sepenuh hati,

 

Jika tatkala kau tak sanggup, katakan kau tak sanggup,

Jangan kau gantungkan dengan setengah hati,

Biarlah orang menilai baik dan buruk rupa dirimu

dari cara kau memilah kepada siapa dan apa hatimu kau serahkan.