Kutipan Penghujung Bulan

IMG-20160730-WA0029

Merantaulah…

Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.

-Imam Syafi’i-

Advertisements

My favorite spots in Jakarta

Following are spaces/spots I like to spend my leisure time in Jakarta, capital city of Indonesia. Let me details them little more.

  1. Tribeca Park – Central Park, West Jakarta.  

central-park-yoga

This place located quite far from my stay in, Depok. The park is in Central Park Mall, one of the luxurious mall in Jakarta. But do not get me wrong, it’s not the mall I really like, it’s the park. The park is really calm and peaceful. In the weekend, I used to saw people bring their pets along in the park, the kids watching the golden fish. I really like just to sit and watch everything.

Benny Likumahuwa
Foto dengan Legenda Jazz Indonesia, Benny Likumahuwa (2014) @ Tribeca Park, Central Park, Jakarta, Indonesia.

 

2. Sarinah Mall – Djakarta Theater – Djakarta Cafe (Thamrin Street)

147907-gedung-sarinah

Second one is Sarinah mall and everything near it. After sunday morning Run, I went here to relax my body and mental. It is very calm and peaceful, especially at night. My sunday are always special right here.

 

3. Setiabudi One, South Jakarta. (and everything near it)

63564d31e1fc39098e69f6187fd84822

This one is quite special too. After work, I went here. It is located in Kuningan areas, so it is quite reachable from my office in Sudirman. I went were for many occasions. But mostly, to join Friday Night Futsal @ Kuningan Village. While in Setiabudi one, I used to go the mall to have night tea. It is always very calm and peace.

Anomali Cafe
With Senior High School Friends @ Anomali Cafe, Setiabudi One.

 

What I Have Done with My 20’s So Far

I turned 20 years old about 3 years ago, so by this September, I am 23 years old. here are what I have done in my early 20s:

 

  1. Financially Independent
bigstockphoto_Financial_Freedom_Road_Sign_3515479
Source Pic: http://www.forbes.com

I become financially independent since I turned 22 years. Right exactly a year ago. I earn at least to fulfill my needs. I do not have sufficient money yet to distribute few of my income to my parents (in Indonesia, specifically in Ambon, there were traditions that working class has obligation to participate fulfilling family needs). But now, I got quite high paying job in Jakarta, my monthly income now is adequate enough to support my family needs, my own needs, and my future savings.

2. Having a hobby

Since college days, I have been involving a lot in Running and Jogging activities. I go around for short exercises of running (aprox. 15-30 minutes running) every Saturday and Sunday. Could be in a weekdays too. I collect medals for running event I had joined and finished, they are all hanging under big nails in my room right now. I collect many running shirts from the competition too. Here is the total of miles of running I have completed (since January 2016):

Screenshot_2016-07-13-06-21-15

3. Having fewer friends

Many ups and downs happen in my 20s, growing up finally realized that there were friends that are good to store them in phone books, others are worth keeping in touch. I will tell about these stories later.

 

4. Social Media/Messengers Control

social-media-mosaic
Source pic: ironsummitmedia

I have many accounts in social media, they were Instagram, Path, Twitter, Facebook, BBM, Line, and Whatsapp. Except Snapchat, I do not actually like using this social media, because it will consume too much data usage of my phone internet. Here are nature of my social media that I used:

Instagram – a complete collection of moments I shared. Mostly private and intimate stuff.

Twitter – football, places, and local issues public commentaries

Path – Media for sharing hobbies and updating locations where I am.

Facebook – media to connect with interesting stuff and news in the world.

BBM – Instant messaging with my closest friend

Line – Instant messaging for personal use

Whatsapp – Instant messaging for working

 

5. Keep in touch with Social Activism/Voluntaries

12552732_10204365284851003_7345124483291158457_n

Graduating from UI with top experiences in social activism, I decided to keep in touch with this positive activities. I funnel few of my earnings to several social organizations, since it takes less time to do. I recently active in my Senior High School alumnus organization, an organization that solely aim to give back contribution to Senior High School.

 

PS: Next week I will publish “What I Haven’t Done with My 20s So Far!“.

 

 

Kampus UI: Sebuah Refleksi Perjalanan Hidup

as
Siluet diri. Alice Springs, Australia September 2009.

Saya masih teringat ketika waktu seumur anak Sekolah Menengah Pertama (SMP), ibu saya sering bercerita bahwa di Indonesia, untuk kuliah, Universitas Indonesia (UI) adalah salah satu kampus yang paling sulit untuk tembus jadi mahasiswa. Jaman beliau, mahasiswa yang masuk sana terbagi dua, kalau bukan mahasiswa pintar sekali (lulus ujian tes), ya kedua dia mungkin anak orang kaya. Orang kaya seperti anak menteri, anak pengusaha, yang katanya kalau masuk harus tukar kunci mobil. Akan tetapi, itu adalah era tahun 1980-an.

Pertama kali mengenal Kampus Fakultas Ekonomi ketika beranjak SMA Kelas 1, saya beruntung menjadi peserta lomba Kompetisi Ekonomi (KOMPeK) yang diselenggarakan mahasiswa FEUI angkatan 2007. Sejak saat itu, saya jatuh cinta dengan FEUI, muncul rasa dan cita-cita untuk lulus SMA dapat kuliah di kampus FEUI.

Selama masa SMA saya banyak mengumpulkan prestasi akademik. Saya pernah mengikuti lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang ekonomi di Medan, tahun 2010. Beberapa kali mengikuti lomba debat Bahasa inggris di KOMPeK FEUI. Serta sempat di tahun 2009, saya mengikuti pertukaran siswa Ambon- Darwin, Australia selama 5 bulan dari Bulan Juli – Desember 2009. Atas prestasi-prestasi tersebut, saya berharap suatu saat dapat berguna untuk bekal masuk kampus favorit yang ada di Indonesia.

Pada tahun 2011, saya lulus SMA dengan nilai yang sangat memuaskan. Di tahun itu pula, pertama kali Pemerintah memberlakukan sistem penjaringan mahasiswa baru untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lewat SNMPTN Undangan. SNMPTN Undangan adalah jalur masuk tanpa tes, berbekal nilai laporan akademik dan prestasi akademik pendukung. Antara nasib atau keberuntungan, prestasi yang sudah saya kumpulkan selama 3 tahun, saya rampungkan untuk sebagai bekal pendukung masuk UI. Jurusan saya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) waktu itu, namun perjalanan akademik di SMA membuat saya lebih menyadari kemampuan saya di bidang ekonomi dan akuntansi. Tak tanggung-tanggung, saya melamar untuk menjadi mahasiswa baru 2 universitas favorit di Indonesia; Universitas Indonesia untuk jurusan Akutansi sebagai pilihan pertama, manajemen dan ilmu ekonomi sebagai pilihan kedua dan ketiga. Kemudian Universitas Gadjah mada dengan pola urutan jurusan yang sama.

SNMPTN Undangan bukan satu-satunya program pemerintah, beasiswa BIDIKMISI juga adalah program pencanangan pemerintah kala itu. Program ini adalah program bantuan finansial kepada mahasiswa yang berkuliah di PTN agar dapat memperlancar dan meningkatkan akademiknya. Bantuannya berupa pembebasan biaya kuliah awal dan per semester, uang saku bulanan, serta pelatihan dan peningkatan softskill yang rutin diselenggarakan.

Banyak tawaran untuk mencoba masuk perguruan tinggi lain sewaktu di masa senggang saya menunggu hasil pengumuman SNMPTN Undangan, namun saya tolak. Hati besar saya berkata, UI adalah kampus saya. Pada waktu yang dinantikan, saya diterima menjadi mahasiswa Universitas Indonesia, kampus Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi angkatan masuk 2011. Sujud syukur, impian itu tercapai, dengan perjalanan perjuangan sekitar 3 tahun.

MASUK UI DENGAN BEASISWA GRATIS        

311052_1911736124664_392418479_n
Foto pertama kali menerima Jaket Kuning UI, Agustus 2011.

 

Setelah berita gembira masuk UI menjadi mahasiswa baru, saya bertolak dari kampong halaman saya di Ambon, Maluku untuk melakukan registrasi resmi sebagai mahasiswa baru dan siap mengikuti program penerimaan mahasiswa baru baik dari universitas dan fakultas. UI adalah kampus dengan sejuta prestasi, histori almamater yang sacral, dan mesin pencetak pejuang pejuang dan intelek bangsa yang handal. Disini, saya menyadari betapa beruntungnya saya waktu itu.

Tidak cukup, sebagai mahasiswa baru dengan calon mahasiswa yang akan diberi bantuan beasiswa Bidik Misi, kampus perlu melakukan penjaringan ulang terlebih dahulu, agar dapat memastikan bahwa mahasiswa yang disantuni adalah mahasiswa yang tepat sesuai dengan kemampuan finansial orang tuanya. Singkat cerita, saya terpilih sebagai mahasiswa baru yang masuk UI dengan gratis, berkat Beasiswa BidikMisi Pemerintah Indonesia.

Perjalanan kampus saya jalani dengan cerita yang tidak monoton, saya memulai kampus serba sendiri. Tidak ada teman kerabat dari Ambon yang saya bawa untuk kuliah bersama saya disini, saya sendiri memulai membangun lingkungan baru. Untunglah, doa orang tua yang kuat membuat saya dapat  beradaptasi dengan sangat baik di Kampus FEUI. Kata  Charles Darwin, “yang bertahan di dunia ini bukanlah yang paling kuat, namun yang paling bisa beradaptasi”. Saya tidak kaget budaya di tanah Jawa, khususnya Jakarta, saya beradaptasi dan mempunyai lingkungan pergaulan yang cukup luas.

Continue reading “Kampus UI: Sebuah Refleksi Perjalanan Hidup”