Melepaskan Hiatus

Kalau mengetik kata Hiatus di google, muncul tampilan dibawah ini:

 

hiatus

Saya sepertinya sedang hiatus. Iseng-iseng di hari sabtu kemarin (3/12/2016) scroll down history akun sosial media Path saya, saya yang dulu (1-3 tahun yang lalu) sepertinya orang yang berbeda. Reaktif. Responsif dan tanggap dengan isu-isu terkini. Tapi berbeda dengan saat ini, cenderung untuk diam dan menanggapi dalam hati.

Mungkin sudah waktunya bangkit dari masa hiatus. Saya harus kembali mencermati lingkungan sekitar.

Pungguk Merindukan Bulan

bulan
sumber gambar: kecubungaidara.blogspot.com

Hari ini tidak seperti biasanya. Saya bertemu seseorang yang dari semua sisinya memiliki kemiripan dengan salah satu staf saya dulu waktu di masa kampus. Baik dari perawakan, penampilan fisik, cara berpakaian, cara berbicara, gaya tertawa, gaya senyum, kaca mata yang digunakan, sampai seluk-seluk kecil yang saya perhatikan sungguh begitu mirip.

Bukan perasaan cinta. Ini perasaan rindu. Entah kenapa saya sangat sendu malam ini membayangkan pada tahun 2013 saya pernah memiliki pengalaman memimpin 7 orang disamping dan dibawah saya. Salah satu dari 7 orang itu yang tadi saya ceritakan sosoknya mirip dengan orang yang saya temui ini. Pengalaman itu sangat mengesankan, tersimpan baik dalam memori dan batin saya, banyak cerita indah dan dramatis yang membantu saya untuk mencintai negeri ini dengan sepenuh hati.

Saya sendu. Saya sendu membayangkan momen-momen manis tersebut. Bolehkah saya kembali ke momen-momen itu lagi ya Tuhan? Banyak cerita manis saya ingin rasakan kembali.

Ini bukan tidak move on. Ini hanya flashback. Kita berhenti sejenak kepada cerita-cerita dimana kita berasal, agar tetap istiqomah dijalur yang tepat. Momen-momen itu hanya bisa terbayang manis dalam ingatan,  berharap waktu dapat diputar kembali, bagaikan pungguk yang merindukan bulan. :”)

To all of you, Departemen Kajian Aksi Strategis BEM FEUI 2013. Sukses terus dimanapun kita berada, insyaAllah kita bertemu kembali untuk Indonesia. Saya percaya 🙂

 

kastrat-13
Departemen Kastrat BEM FEUI 2013. xoxo

 

 

 

Sepenuh Hati

Menjalani segala sesuatu hendaknya dijalani sepenuh hati.

Hati yang penuh dan bulat memandu otak untuk bekerja sesungguh-sungguh.

 

Kuliah, belajarlah sepenuh hati,

Mencari kerja, aktif lah sepenuh hati,

Bekerja, kerjakanlah sepenuh hati,

Membantu teman, bantulah sepenuh hati,

Menolong saudara, tolonglah sepenuh hati

Mengasihi, kasihi lah sepenuh hati,

Mencintai, cintailah sepenuh hati,

 

Jika tatkala kau tak sanggup, katakan kau tak sanggup,

Jangan kau gantungkan dengan setengah hati,

Biarlah orang menilai baik dan buruk rupa dirimu

dari cara kau memilah kepada siapa dan apa hatimu kau serahkan.

 

 

Kutipan Penghujung Bulan

IMG-20160730-WA0029

Merantaulah…

Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.

-Imam Syafi’i-

Menangkap Kesempatan untuk Bekerja di Ibukota

okezone
Sumber gambar: http://www.okezone.com

Kesempatan bekerja tetap di Indonesia terbilang susah-susah gampang, khususnya pekerjaan dengan kompensasi yang relatif bagus. Akses informasi akan kesempatan pekerjaan ini sudah terbuka luas di internet dengan berbagai website atau organisasi penyedia informasi lowongan pekerjaan. Akan tetapi, untuk dapat lolos seleksi ke tahap kerja selanjutnya seperti wawancara adalah salah satu kesempatan yang tidak mudah di raih.

Hal seperti ini terjadi di berbagai tempat, apalagi di Ibukota Indonesia, Jakarta. Kesempatan pekerjaan di Jakarta sebetulnya sangatlah tinggi mengingat kebutuhannya sebagai sebagai kota industri. Industri seperti manufaktur, dagang, jasa keuangan, jasa hotel & lodging, telekomunikasi, agrobisnis, dan lain-lain. Head-office perusahaan-perusahaan swasta besar dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ada di Jakarta. Di sektor pemerintahan, Kementerian/Lembaga Negara umumnya memberikan kompensasi untuk staf/karyawan yang baru diterima relatif lebih baik dibanding pemerintah daerah tingkat I dan II. Maka tak heran kebutuhannya untuk tenaga kerja tiap tahunnya juga pasti besar dalam skala.

Menurut BPS per Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5% (688,880 orang) dari total pengaggur yang merupakan alumni perguruan tinggi. Setiap tahunnya, lulusan S1 perguruan tinggi (fresh graduates) berbondong-bondong melamar pekerjaan. Tidak hanya bersaing dengan rekan-rekan angkatan kerjanya, tetapi juga dengan angkatan kerja senior (lulus kampus lebih dulu) yang belum mendapatkan pekerjaan. Kondisi yang tidak berimbang ini mengakibatkan tidak terserapnya semua angkatan kerja. Faktanya, untuk dapat diterima bekerja itu bukanlah usaha dalam satu-dua malam, melainkan usaha yang sudah dipupuk bertahun-tahun.

moneycnn
Grade A is very important. (Sumber gambar: http://www.money.cnn.com)

Pertama, untuk dapat bekerja sesuai dengan pekerjaan yang diimpikan, unggul di satu keahlian adalah wajib hukumnya. Ukuran unggul dalam keahlian yaitu angka Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi. IPK adalah satu-satunya tolak ukur kongnitif tingkat penguasaan pengetahuan dan keahlian seseorang atas jurusan/bidang yang ia geluti/lulusi. Dengan memiliki IPK diatas rata-rata (cumlaude), maka seorang lulusan baru memiliki keistimewaan untuk melamar pekerjaan di tempat kerja yang bagus, yang umumnya mensyaratkan IPK rekrutmen diatas 3.5 atau cumlaude. Ibarat nonton bola, IPK adalah tiket untuk dapat duduk di bangku VIP (very important person).

Continue reading “Menangkap Kesempatan untuk Bekerja di Ibukota”

My favorite spots in Jakarta

Following are spaces/spots I like to spend my leisure time in Jakarta, capital city of Indonesia. Let me details them little more.

  1. Tribeca Park – Central Park, West Jakarta.  

central-park-yoga

This place located quite far from my stay in, Depok. The park is in Central Park Mall, one of the luxurious mall in Jakarta. But do not get me wrong, it’s not the mall I really like, it’s the park. The park is really calm and peaceful. In the weekend, I used to saw people bring their pets along in the park, the kids watching the golden fish. I really like just to sit and watch everything.

Benny Likumahuwa
Foto dengan Legenda Jazz Indonesia, Benny Likumahuwa (2014) @ Tribeca Park, Central Park, Jakarta, Indonesia.

 

2. Sarinah Mall – Djakarta Theater – Djakarta Cafe (Thamrin Street)

147907-gedung-sarinah

Second one is Sarinah mall and everything near it. After sunday morning Run, I went here to relax my body and mental. It is very calm and peaceful, especially at night. My sunday are always special right here.

 

3. Setiabudi One, South Jakarta. (and everything near it)

63564d31e1fc39098e69f6187fd84822

This one is quite special too. After work, I went here. It is located in Kuningan areas, so it is quite reachable from my office in Sudirman. I went were for many occasions. But mostly, to join Friday Night Futsal @ Kuningan Village. While in Setiabudi one, I used to go the mall to have night tea. It is always very calm and peace.

Anomali Cafe
With Senior High School Friends @ Anomali Cafe, Setiabudi One.

 

What I Have Done with My 20’s So Far

I turned 20 years old about 3 years ago, so by this September, I am 23 years old. here are what I have done in my early 20s:

 

  1. Financially Independent
bigstockphoto_Financial_Freedom_Road_Sign_3515479
Source Pic: http://www.forbes.com

I become financially independent since I turned 22 years. Right exactly a year ago. I earn at least to fulfill my needs. I do not have sufficient money yet to distribute few of my income to my parents (in Indonesia, specifically in Ambon, there were traditions that working class has obligation to participate fulfilling family needs). But now, I got quite high paying job in Jakarta, my monthly income now is adequate enough to support my family needs, my own needs, and my future savings.

2. Having a hobby

Since college days, I have been involving a lot in Running and Jogging activities. I go around for short exercises of running (aprox. 15-30 minutes running) every Saturday and Sunday. Could be in a weekdays too. I collect medals for running event I had joined and finished, they are all hanging under big nails in my room right now. I collect many running shirts from the competition too. Here is the total of miles of running I have completed (since January 2016):

Screenshot_2016-07-13-06-21-15

3. Having fewer friends

Many ups and downs happen in my 20s, growing up finally realized that there were friends that are good to store them in phone books, others are worth keeping in touch. I will tell about these stories later.

 

4. Social Media/Messengers Control

social-media-mosaic
Source pic: ironsummitmedia

I have many accounts in social media, they were Instagram, Path, Twitter, Facebook, BBM, Line, and Whatsapp. Except Snapchat, I do not actually like using this social media, because it will consume too much data usage of my phone internet. Here are nature of my social media that I used:

Instagram – a complete collection of moments I shared. Mostly private and intimate stuff.

Twitter – football, places, and local issues public commentaries

Path – Media for sharing hobbies and updating locations where I am.

Facebook – media to connect with interesting stuff and news in the world.

BBM – Instant messaging with my closest friend

Line – Instant messaging for personal use

Whatsapp – Instant messaging for working

 

5. Keep in touch with Social Activism/Voluntaries

12552732_10204365284851003_7345124483291158457_n

Graduating from UI with top experiences in social activism, I decided to keep in touch with this positive activities. I funnel few of my earnings to several social organizations, since it takes less time to do. I recently active in my Senior High School alumnus organization, an organization that solely aim to give back contribution to Senior High School.

 

PS: Next week I will publish “What I Haven’t Done with My 20s So Far!“.